Mohammad Guruh Irianto Sukarnoputra (13 Januari 1953 - 26 September 2026).
Putra bungsu Bung Karno itu berpulang pagi ini, pukul 04.16 WIB di RS MRCCC Siloam Semanggi. Usia 73 tahun. Indonesia tidak hanya kehilangan anak seorang proklamator, tapi kehilangan jembatan terakhir antara istana dan panggung.
I. Lahir di Tengah Kekuasaan, Tumbuh di Luar Kekuasaan
Jika kakak-kakaknya memilih jalan politik, Guruh memilih jalan sunyi yang lebih berisik: seni.
Ia lahir di Istana Merdeka. Bayi yang digendong Fatmawati itu adalah anak bungsu. Darah Soekarno mengalir deras di nadinya, tapi bukan darah orator. Yang mengalir adalah darah penari. Di usia 5 tahun, ia sudah menari. Di usia ketika anak-anak lain bermain pistol-pistolan, ia sudah mendengarkan gamelan.
Menjadi anak Soekarno adalah beban. Semua mata menuntutnya menjadi Soekarno kecil. Guruh menolak. Ia tidak ingin menjadi singa podium. Ia ingin menjadi penabuh gamelan.
II. 1975: Ketika Gamelan Bertemu Gitar Listrik
Tahun 1975 adalah tahun gila. Di sebuah studio sempit, Guruh mengumpulkan Keenan Nasution, Abadi Soesman, Chrisye, dan Keenan Nasution. Mereka membentuk sesuatu yang belum pernah ada di Indonesia: Guruh Gipsy.
Album self-titled itu sampai hari ini masih dianggap sebagai salah satu album paling berani dalam sejarah musik Indonesia. Di satu sisi ada gamelan Bali yang mistis, di sisi lain ada Moog synthesizer dan gitar distorsi ala Yes dan Genesis. Orang bingung. Kritikus mencibir. Tapi 50 tahun kemudian, anak-anak indie di Blok M masih menganggap itu adalah kitab suci.
Dari Gipsy lahirlah Swara Mahardika pada 1976. Bukan sekadar grup musik. Itu adalah laboratorium kebudayaan. 200 penari, penabuh, penyanyi. Ia menciptakan sendratari, operet, pagelaran kolosal yang memadukan Jawa, Bali, Melayu, dan Barat. Di era ketika semua orang ingin menjadi Barat, Guruh memaksa Barat untuk melihat ke Timur.
Lagu-lagunya - "Kala Sang Surya Tenggelam", "Malam Ini", "Zamrud Khatulistiwa" - bukan sekadar lagu. Itu adalah doa yang diberi melodi.
III. Sang Adik yang Beda
Hubungannya dengan sang kakak, Megawati Soekarnoputri, adalah kisah yang indah. Jika Megawati adalah penjaga ideologi ayahnya, Guruh adalah penjaga jiwanya.
Ia masuk PDI Perjuangan, ia duduk di DPR, tapi ia tidak pernah benar-benar menjadi politisi. Di ruang rapat yang penuh kalkulasi, ia tetap seniman. Bajunya batik yang ia desain sendiri. Bicaranya pelan, tentang estetika, tentang irama.
Ia adalah trah Soekarno yang paling tidak Soekarno. Dan justru karena itu, ia yang paling Soekarno. Karena Bung Karno sendiri pernah berkata: "Seni adalah jiwa bangsa."
IV. Pagi Ini
Kabar itu datang dari Hasto Kristiyanto pagi ini. "Telah berpulang ke Rahmatullah Almarhum Bapak Mohammad Guruh Irianto Sukarnoputra bin Sukarno pada usia 73 tahun."
Di media sosial, sejak jam 7 pagi, Indonesia berduka dengan caranya sendiri. Musisi muda mengunggah cover lagu Guruh Gipsy. Penari Bali mengunggah potongan tariannya. Tidak ada debat politik di kolom komentar. Hanya terima kasih.
Jenazahnya akan disemayamkan di Jalan Sriwijaya Raya, dan dimakamkan di TPU Karet Bivak, di samping makam ibunya, Fatmawati - perempuan yang menjahit bendera merah putih pertama, yang kini kembali memeluk putra bungsunya.
Selamat Jalan GSP