Setiap tanggal 1 Oktober, Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Kita mengenang bahwa ideologi bangsa ini pernah coba diganti, coba ditumbangkan. Tapi Pancasila terbukti sakti — ia bertahan.
Kata "sakti" di sini bukan soal kesaktian supranatural. Sakti artinya punya daya tahan. Punya prinsip yang tidak goyah meski zaman berguncang.
Dan inilah pesan paling relevan untuk pengusaha Indonesia hari ini.
Kita sedang hidup di masa yang tidak mudah. Daya beli tertekan, biaya operasional naik, disrupsi teknologi datang bertubi-tubi. Banyak founder yang omzetnya jalan, tapi kepalanya mau pecah. Banyak yang terjebak dalam Founder Trap: bisnis tumbuh, tapi founder justru kehabisan napas.
Di titik inilah kita perlu belajar dari Kesaktian Pancasila: bertahan bukan dengan menjadi keras, tapi dengan menjadi berprinsip dan adaptif.
Sebagai Founder Hipepipo, Sekolah Mall Indonesia, dan penggagas RMIC (Roadmap of Investable Company), saya melihat ada 5 pilar yang membuat perusahaan menjadi sakti — tahan banting dan layak diperjuangkan:
1. Valuable: Apakah bisnismu benar-benar menciptakan nilai, bukan sekadar jualan?
2. Profitable: Apakah ia sehat secara keuangan, bukan sekadar ramai?
3. Investable: Apakah ia layak dipercaya investor, dengan tata kelola yang rapi?
4. Sustainable: Apakah ia bisa jalan tanpa selalu bergantung pada foundernya?
5. Growth: Apakah ia punya peta jalan untuk naik kelas, bukan sekadar bertahan hidup?
Lima pilar ini tidak akan tegak tanpa fondasi manusianya. Itulah yang saya sebut SALIM – Software Operation Nadi Industri:
Spiritual, Attitude, Legacy, Integrity, Maturity.
Pengusaha yang sakti adalah pengusaha yang spiritualnya terjaga, attitudenya dewasa, integritasnya utuh, dan matangnya teruji. Ia membangun bukan sekadar untuk profit, tapi untuk legacy.
Pancasila sakti karena ia mempersatukan. Pengusaha akan sakti jika ia juga mempersatukan: timnya, mitranya, komunitasnya, dan bangsanya.
Hari ini, 1 Oktober, mari kita jadikan momentum. Bukan sekadar upacara seremonial, tapi refleksi bisnis: Apakah perusahaan kita sudah valuable? Sudah investable? Sudah sustainable?
Indonesia tidak butuh lebih banyak pengusaha yang sekadar viral. Indonesia butuh lebih banyak Founder Tahan Banting — yang tetap optimis, terus berinovasi, dan berani membawa perusahaannya dari UMKM menuju IPO, dari bisnis keluarga menuju investable company, bahkan menuju Corporate On Chain.
Karena seperti Pancasila, pengusaha Indonesia pun harus terbukti sakti: bertahan dalam krisis, keluar sebagai pemenang.
Salam Tahan Banting,
Fajar Informanto
Founder RMIC & ROQI | Penulis Save The CEO
#SaveTheCeo
#HipePipo
#FounderTahanBanting
#CorporateOnChain
#RMIC