IN THIS ECONOMY, SELAMATKAN DULU CEO-nya :SAVE THE CEO

Uploaded Image
IN THIS ECONOMY, Kenapa CEO Paling Pertama yang Harus Diselamatkan?

Jakarta, 06 /0 9 2026

In this economy, semua orang bilang: jaga cashflow.

Tidak ada yang bilang: jaga CEO-nya.

Padahal, in this economy, yang paling mahal bukan iklan, bukan stok, bukan kantor. Yang paling mahal adalah CEO yang masih waras.

Saya melihat terlalu banyak founder bangkrut bukan karena market. Tapi karena dirinya sendiri habis duluan sebelum bisnisnya habis.

In this economy, kita diajarkan untuk lebih.
Lebih omzet. Lebih cabang. Lebih karyawan. Lebih validasi.

Tapi tidak ada yang mengajari kita kapan bilang cukup.

1. In This Economy, Lebih Tidak Selalu Berarti Bahagia
Saya kenal CEO omzet 5M per bulan, tapi minum obat tidur setiap malam.
Saya kenal founder punya 100 karyawan, tapi tidak ada satu pun yang bisa diajak jujur bahwa dia capek.

Lebihnya dia dapat. Bahagianya tidak.

In this economy, kita kejar angka sampai lupa: untuk apa angka itu ada?

Kalau omzet naik tapi waktu dengan keluarga hilang, itu bukan growth. Itu hutang.
Kalau cabang nambah tapi detak jantung tidak teratur, itu bukan scale. Itu bom waktu.

2. In This Economy, CEO Jadi Aktor Terbaik
Di depan tim: “Kita gas terus!”
Di dalam mobil sendirian: nangis, diam, hampa.

Kita jago pakai topeng. Kita bangga tahan banting. Padahal tahan banting bukan berarti tidak boleh istirahat. Tahan banting yang sejati adalah tahu kapan harus jeda, agar bisa kembali lebih utuh.

Banyak CEO menunggu tubuhnya yang menjadwalkan istirahat. Dan jadwal tubuh tidak bisa dinego. Dia datang dalam bentuk anxiety, burnout, rumah tangga retak, atau diagnosa dokter yang terlambat.

3. In This Economy, Validasi Adalah Penjara Paling Mahal
Kita hidup untuk tepuk tangan tim.
Kita ukur harga diri dari pujian karyawan.
Kita bangun istana yang kita sendiri tidak betah tinggal di dalamnya.

Padahal, in this economy, yang perlu diselamatkan bukan cuma P&L. Tapi pulang dengan utuh.

Pulang ke rumah dengan hati masih ada.
Pulang ke diri sendiri tanpa rasa bersalah karena menutup laptop jam 6 sore.
Pulang dengan bisa bilang: “Hari ini cukup. Saya cukup. Bisnis saya cukup.”

4. Merdeka Sejati di Ekonomi yang Tidak Pasti
SAVE THE CEO bukan gerakan anti-ambisi. Kami cinta ambisi.

Tapi kami percaya: bisnis boleh ambisius, hati jangan serakah.

Merdeka sejati in this economy bukan punya segalanya. Merdeka sejati adalah punya pilihan untuk bilang tidak.

Tidak untuk meeting yang tidak perlu.
Tidak untuk omzet yang merusak kesehatan.
Tidak untuk validasi yang menguras jiwa.

Dan ya untuk hal yang tidak bisa dibeli lagi: waktu, kesehatan, ketenangan.

In this economy, kemewahan paling brutal adalah CEO yang bisa tidur nyenyak tanpa mikirin cashflow. Itu bukan kelemahan. Itu kompas.
Penutup: Untuk CEO yang Membaca Ini Jam 1 Pagi
Kalau kamu membaca ini jam 1 pagi, masih mikirin payroll, masih ngerasa sendirian di tengah tim yang ramai — kamu tidak sendiri.

Gerakan ini ada untuk kamu.

100 hari ke depan, saya akan menemani kamu. Bukan dengan motivasi kosong. Tapi dengan pengingat brutal yang elegan: kamu adalah aset termahal di perusahaanmu. Jaga nilaimu.

In this economy, selamatkan dulu CEO-nya.
Maka bisnisnya akan ikut selamat.

SAVE THE CEO.
Menyelamatkan CEO dari dirinya sendiri.

 Fajar Informanto

Founder SAVE THE CEO.
Inisiator Penyelamatan Ekosistem C.  Korporasi - Konglomerasi.

#SaveTheCeo #InThisEconomy #FounderTahanBanting 
#CeoBurnOut

@savetheceoid  @fajar.informanto